''s posts with tag: father

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
ReviewReviewReviewReviewReviewUlang Tahun_ku Di RS. FatmawatiOct 17, '08 5:37 AM
for everyone
Category:Other
Pagi itu..

Aku mengawali hariku dengan ceria kala melangkahkan kaki kekantor.
Sejak dari rumah, aku merapikan diri didepan cermin dengan lebih teliti sambil menghias diriku. Aku mengenakan baju baru yang sengaja aku beli tuk hari itu..

Ya.. hari ini memang hari special tuk aku, hari dimana usiaku bertambah satu, hari dimana awal aku melihat dunia yang penuh dengan warna warni kehidupan..

Sepanjang pagi itu, aku mengerjakan pekerjaan kantor dengan penuh semangat. Sambil memikirkan persiapan makan siang dengan teman-teman sekantor dan terseyum-senyum membayangkan kejutan apa yg dibuat Hubby tuk aku malam ini.. Ehmmm…

Namun, tepat saat pukul 11.00 aku menerima telp dari kakakku. Mengabarkan bahwa kakak perempuanku akan melahirkan, namun tekanan darahnya tinggi 170/110 sehingga mendapat rujukan ke RS. Fatmawati. Aku tidak terlalu ikhlas kakakku dibawa kerumah sakit itu, karena sering mendengar kabar dari beberapa orang bahwa perawat di RS. Fatmawati yang kurang ramah dalam memberikan pelayanan.

Tepat pukul 12 siang aku langsung izin dari kantor untuk pulang cepat dan langsung meluncur ke RS. Fatmawati. Bersyukur sekali jalan tol siang itu tidak macet. Aku ingin segera mengetahui keadaan kakakku. Apakah dia pre / ekaklamsia?? Bagaimana uriennya?? Apakah positif?? Jika positif stadium berapa?? Apakah kakakku dapat melahirkan normal atau harus dengan Sectio??

Sampai disana, aku langsung menghampiri kakakku.. menanyakan ini dan itu kepada suster yang memeriksa. Oh.. ternyata perawat di sana ramah kok, aku agak sedikit tenang. Namun, yang membuatku heran, pihak keluarga tidak ada yang diajak bicara oleh salah satu petugas atau dokter disana tentang keadaan kakakku. Pihak keluarga tidak ada yang diberitahukan hasil labnya seperti apa?? Karena sepengalamanku melahirkan, (aku melahirkan dengan section karena pre eklamsia dengan urine protein stadium 2 dan tekanan darah 160/130).. Kami pihak keluarga hanya menunggu diluar, sambil sesekali dipanggil hanya untuk menebus obat, infuse ataupun perlengkapan yang akan dibutuhkan ke Depo Farmasi. Sungguh.. membingungkan sekali prosedur disana. Mungkin karena Rumah Sakit besar dengan pasien yang banyak sekali, sehingga keadaan disana terlihat berantakan.

Aku tidak terlalu yakin kakakku dapat melahirkan normal. Meskipun tekanan darahnya sudah turun menjadi 140/90 dan hasil urine proteinnya negative, karena kakaku sudah kepayahan karena kehabisan tenaga, dan yang aku dengar dari dokter saat USG, letak bayinya masih diatas, sudah terlalu payah untuk dapat melalukan dorongan saat mengejan. Dan lagi, ketuban pecah sudah dari 3 jam yang lalu tapi perawat maupun dokter tidak ada yang mengetahuinya jika aku tidak menginformasikannya.. Padahal, harusnya kakakku mendapatkan pemeriksaan yang insentif untuk menentukan proses melahirkan seperti apa yang tidak beresiko.

Namun, pada akhirnya kakakku harus mengalami penderitaan yang amat sangat menyakitkan disana. Dokter-dokter disana amat sangat tidak bersahabat. Kakakku yang sedang mengaduh dan bergeliat saat kontraksi, malah dibentak-bentak, disuruh jangan bergerak, hanya karena dia sedang melakukan USG.

Sampai menjelang detik-detik melahirkan, pihak keluarga juga tidak ada yg diberitahu akan melahirkan dengan cara apa?? ???

Akhirnya, kakakku melahirkan secara normal, normal yang dipaksakan menurutku.. itupun setelah di induksi dan pada akhirnya bayinya harus keluar dengan di vakum. Sungguh, hatiku terasa teriris membayangkan prosesnya. Kalau jadinya akan diinduksi dan di vakum, kami pihak keluarga lebih memilih Sectio.. untuk meringankan penderitaannya.. Tapi, dimana hati nurani para dokter disana?? Harusnya mereka lebih mengetahui keadaan pasien donk!!! Hatiku seakan marah dan ingin sekali memaki mereka semua..

Sampai setelah 2 jam lebih proses melahirkan, kami kembali heran.. Kenapa proses jahit luka melahirkan belum selesai juga, beberapa kali harus mengambil benang di Depo Farmasi, baru saat itu pihak keluarga di minta masuk oleh dokternya, karena kebetulan suaminya sedang ke Depo Farmasi, maka aku yang mewakilkannya untuk masuk Saat masuk kesana, aku pikir ada yang mau dibicarakan oleh dokter, namun dugaanku salah, Astaghfirullah alaziimm.. aku dibentak-bentak dan dipaksa untuk melihat luka kakakku yang begitu besar dan tidak beraturan, lukanya sangat dalam sekali dan panjang sampai ke anus, dan kakaku mengalami perdarahan yang sangat hebat. Dengan menguatkan hati, aku langsung mendekati kakakku dan mengelus-ngelus kepalanya mencoba menguatkan kakakku yang saat itu yang terus-menerus mengaduh kesakitan dan mencoba memohon kepada dokter untuk dibius local. Tapi sambil menjahit kemaluan kakakku, dokter itupun terus menerus mengoceh yang tidak mengenakan. Seolah-olah, dia itu Tuhan yang punya kuasa atas segalanya.

Hatiku teriris perih sepanjang 4 jam berlangsungnya proses penjahitan. Entah berapa banyak benang yang sudah digunakan untuk menjahitnya. Entah berapa kali doa yang aku panjatkan tuk menenangkan kakakku, untuk memohon kepada Allah agar mengangkat penderitaan kakakku. Entah berapa kali Asma Allah aku ucapkan agar dokter itu tersentuh hatinya dan proses itupun bisa cepat selesai.

Setelah selesai, aku kembali dibentak-bentak dan dipaksa untuk melihat hasilnya. Ya.. Allah.. Seperti itukah manusia yang tercipta tanpa memiliki hati nurani?? Padahal dia juga perempuan, dan dia seorang muslim yang sudah menutup auratnya dengan jilbab.

Begitulah Allah menjadikan aku lebih dewasa dihari ulang tahunku..

Cheers,

Mom’s Aghna




Blog Entry...Ayah... Ma'afkan aku...!!!!Aug 22, '07 10:23 PM
for everyone

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter
tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf?..

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Subhanallah Maha Suci Allah...

Mudah-mudahan kita selalu diiringi Istigfar yah...


Blog EntryStory of Jessica Jul 18, '07 3:11 AM
for everyone

 

"Papa Baca Keras-Keras Ya Pa, Supaya Jessica Bisa Denger"


Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk

memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke

rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting

dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik menyeleksi

dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri

tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu

bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica,

"Pa liat"! Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya.

Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kacamatanya, kalimat yang

keluar hanyalah kalimat basa-basi "Wah,. buku baru ya Jes?",

"Ya Papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya.

"Bacain Jessi dong Pa" pinta Jessica lembut, "Wah papa sedang sibuk sekali,

jangan sekarang deh" sanggah Budi dengan cepat.

Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang

berserakkan didepannya, dengan serius.

Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut

dan sedikit manja ia kembali merayu "pa, mama bilang papa mau baca untuk

Jessi" Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama

baca ya" "Pa, mama cibuk terus, papa liat gambarnya lucu-lucu",

"Lain kali Jessica, sana ! papa lagi banyak kerjaan" Budi berusaha

memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi

menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri

ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi. "Pa,.. gambarnya

bagus, papa pasti suka", "Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" kata Budi

membentaknya dengan keras, Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil

terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi

ayahnya "Iya pa,. lain kali ya pa?"

Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan

ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. "Pa kalau papa ada

waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger".

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun

permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri Imut,

belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara

hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris

bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang

melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi.

Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang

begitu panik ambulance didatangkan secepatnya, selama perjalanan

menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih

"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang papa mama" darah segar

terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya

di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi

waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah

penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana,.. pun

tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil

anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita,

kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali, ",...papa baca keras-keras
ya

Pa, supaya Jessica bisa denger" kata-kata Jessi terngiang-ngiang kembali.

Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan

kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi,

Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari

onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi,

sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk

menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari

Jessica kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia

membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras, tampak

sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan

keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.

"Jessi dengar papa baca ya" selang beberapa kata,.. hatinya memohon lagi

"Jessi papa mohon ampun nak"

"papa sayang Jessi" Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores

lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujut dan menangis,..

memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi

kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita karena ia peduli

kepada kita.

ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ?

BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALI

Bukankah Kesempatan untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang

kita cintai itu sangat berharga ?


Blog EntryLetter to DADJul 17, '07 6:04 AM
for everyone
>A father passing by his son's bedroom was astonished to see the bed
>was nicely made and everything was
>picked up. Then he saw an envelope propped up prominently on the centre of
>the bed. It was addressed, "Dad".
>
>With the worst premonition, he opened the envelope and read the
>letter with trembling hands:
>
>Dear Dad,
>
>It is with great regret and sorrow that I'm writing you. I had to
>elope with my new girlfriend because I
>wanted to avoid a scene with Mum and you. I've been finding real
>passion with Joan and she is so nice, even
>with all her piercings, tattoos, and her tight Motorcycle clothes.
>But it's not only the passion dad, she's
>pregnant and Joan said that we will be very happy. Even though you won't
>care for her as she is so much older than I, >she already owns a trailer in the woods
>and has a stack of firewood for the whole winter. She wants to
>have many more children with me and that's
>now one of my dreams too.
>
>Joan taught me that marijuana doesn't really hurt anyone and we'll
>be growing it for us and trading it with
>her friends for all the cocaine and ecstasy we want. In the
>meantime, we'll pray that science will find a
>cure for AIDS so Joan can get better; she sure deserves it!! Don't worry
>Dad, I'm 15 years old now and I know how to take care
>of myself. Someday I'm sure we'll be
>back to visit so you can get to know your grandchildren.
>
>Your son, John
>
>PS: Dad, none of the above is true. I'm over at the neighbor's
>house. I just wanted to remind you that
>there are worse things in life than my report card that's in my
>desk center drawer. I love you!
>
>Call when it is saf! e for me to come home.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help