''s posts with tag: couple
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Dua orang yang baik, tapi mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi. Dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibandingkan sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung-jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadual sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedangkan ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidak-berdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan. Sedangkan aku juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri: Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia? Pengorbanan yang dianggap benar Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia, dan suamiku sendiri sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan yang tidak enak. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya kami berdua tetap saja tidak bahagia... Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata: "Istriku, temani aku sejenak mendengarkan alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata: "Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dipel?" Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidak-bahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. "Apa yang kamu inginkan?" Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya... Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya. Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku, cara saya juga sama seperti ibu. Perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?" Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengarkan musik, dan dari kejauhan saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu. Saya bertanya pada suamiku: "Apa yang kau butuhkan?" "Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengarkan musik. Rumah kotor sedikit tidak apa-apalah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku!" ujar suamiku. "Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu.... dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. " "Semua itu tidak penting!", ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana saling mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua. Jalan kebahagiaan Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya waktu senggang menemani pihak kedua mendengarkan musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat. Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya: 'Dengarkan aku, jangan memberi komentar'. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya. Kalau tidak saya hanya boleh mendengarkan dengan serius, menurut sampai tuntas. Demikian juga ketika salah jalan. Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan. Dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan ke luar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami. Setiap ada pertikaian, kami selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan. Kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam. Bertanya pada pihak kedua: "Apa yang kau inginkan", kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia. Mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun pihak kedua tidak dapat merasakannya. Akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri. Perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.~ Erabaru (Sumber Secret China)
Boy adalah seorang cowo yg menjadi buta karena sebuah kecelakaan.. Sejak ia menjadi buta..ia merasa terasing dari lingkungannya.. Ia merasa tidak ada seorang pun yg memperhatikan atau menyayanginya..
Hingga kemudian hadirlah Girl dalam hidupnya.. Girl sangat sayang dan perhatian pada Boy.. Ia tidak pernah mempermasalahkan kebutaan Boy sebagai suatu kekurangan yg berarti.. Ia sungguh-sungguh mencintai Boy dengan tulus...
Suatu hari berkatalah Boy kepada Girl..
B : Girl...mengapa kamu begitu menyayangiku. .?
G: hmmm..entahlah..aku tidak pernah tau alasan mengapa aku begitu menyayangimu..yg aku tahu..aku benar-benar tulus menyayangimu Boy.. (tersenyum)
B : tapi..aku kan buta..apa yg bisa aku perbuat untukmu..? apa yg bisa aku berikan buatmu..?
G : Boy..aku tidak mengharap apapun darimu..buatku..kamu bisa ceria setiap hari dan menyayangiku dengan tulus itu sudah cukup.. aku senang ketika kau merasa senang..
B : (terharu) belum pernah ada orang yg begitu menyayangi aku yg buta seperti ini..
G : (menggenggam tangan Boy sambil tersenyum)
B : Girl..kalo sampai suatu saat nanti aku bisa melihat lagi..aku pasti akan menikahimu.. karena hanya kamu satu-satunya orang yg dengan tulus menyayangiku...
G : benarkah..?
B : iya..aku janji..kalau suatu saat nanti aku bisa melihat, PASTI aku akan menikahimu..
G : (terharu) terima kasih Boy..aku sangat menyayangimu...
B : (tersenyum) ya..aku tahu itu..aku juga sangat menyayangimu Girl..
singkat cerita.. Boy melakukan operasi cangkok mata dan berhasil..ia mampu melihat lagi.. Ia pun tidak sabar untuk segera menemui Girl..
Pergilah ia mencari Girl.. sampai ia berhasil menemukannya... Namun... alangkah terkejutnya ia mengetahui bahwa ternyata Girl adalah seorang gadis buta.. Ia tidak bisa menerimanya..Ia pun menolak Girl .. Ia lupa akan semua janjinya...
G : Boy..bukankah kamu sudah berjanji akan menikah denganku..?
B : ummm....(bimbang) ya memang aku pernah berkata begitu..tapi tidak dengan keadaanmu yg seperti ini..
G : Bagaimana mungkin kamu mengingkari janjimu sendiri..? bukankah kau bilang hanya aku satu-satunya orang yg menyayangimu..?
B : eeeerr...maaf Girl..tapi aku tidak bisa menikah dengan gadis buta..maaf..
Boy pun pergi meninggalkan Girl..
Girl yang kecewa dan merasa dikhianati.. memilih untuk bunuh diri..
Saat ia ditemukan meninggal..ada sepucuk surat disakunya..
"Dear Boy... Memang tidak banyak yg bisa aku berikan padamu..tidak banyak yg bisa aku lakukan untukmu... Namun..aku sungguh-sungguh tulus menyayangimu... Semoga kedua mataku itu bisa berguna bagimu..bisa membawakan terang dan keceriaan dalam hidupmu kembali.."
~Kadang kala kita tidak boleh melihat sesuatu hanya dengan mata..melainkan juga dengan hati kita.. Mata itu bisa menipu..namun hati tidak.. kata hati selalu merupakan kejujuran terdalam dalam hidup manusia..~
Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku,
" Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.
" Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab,
" Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."
" Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?" " Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."
Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."
Kisah Ini untuk: yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang akan menikah, dan yang sedang mencari.
> Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan > saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar > di bahunya yang bidang. > Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya > harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu > telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang > sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. > Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan > permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda > dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya > dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah > mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal. > > Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, > bahwa saya menginginkan perceraian. > "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. > "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" > Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak > seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. > Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat > mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? > Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah > pikiranmu?". > Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya > pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya > akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah > yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung > itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" > Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya > besok." > Hati saya langsung gundah mendengar responnya. > > Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas > dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang > bertuliskan.... > "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya > untuk menjelaskan alasannya." > Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk > membacanya. "Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program > di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan > jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya." > "Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya > harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu > untukmu ketika pulang.". > "Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru > yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata > saya untuk mengarahkanmu." > "Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan > saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal." > "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. > Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau > meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami." > "Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk > kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, > saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu." > "Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati > matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang > bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu". > "Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, > saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku." > "Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya > mencintaimu." > "Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku > tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, > dan mata lain yang dapat membahagiakanmu." > > Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, > tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya. > "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. > Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk > tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang > sedang berdiri disana menunggu jawabanmu." > "Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan > barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, > bahagiaku bila kau bahagia.". > > Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu > dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. > Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari > dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah > berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat > memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu > sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan > sebelumnya. > > Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan > kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. > Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".
Sewaktu Boy dan Girl baru pacaran, Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl, menggantungkannya di dalam kamar Girl. Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya. Waktu itu... Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua...
Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy. Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...Ke Paris ... Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu... Sewaktu Girl mau memutuskan Boy, Girl bilang sama Boy, kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya. Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!
Setelah Girl pergi ke Perancis, Boy bekerja keras... dia pernah menjual koran... menjadi karyawan sementara... bisnis kecil... setiap pekerjaan kerjakan dengan sangat baik dan tekun. Sudah lewat beberapa tahun... Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya, akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl, dia masih tidak dapat melupakannya.
Pada suatu hari... waktu hujan, Boy dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl.... Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Boss.
Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang-tua tersebut. Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan. Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Boy tercegang oleh apa yang ada didepan matanya, itu adalah tempat pemakaman. Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis terhadapnya. Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang dibuatkan Boy. Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup, Orang-tua Girl memberitahu Boy, Girl tidak pergi ke Paris, Girl terserang kanker, Girl pergi ke surga. Girl ingin Boy menjadi orang, mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu. Girl bilang dia sangat mengerti Boy, dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil. Girl mengatakan.. . kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. Boy langsung berlutut, berlutut di depan makam Girl, menangis dengan begitu sedihnya. Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti, membasahi sekujur tubuh Boy. Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos, Mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah...
Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Boy sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.
"Hatiku tidak pernah menyesal, semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas, 1000 ketulusan hatiku, beterbangan di dalam angin menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...melewati sungai perak, apakah aku bisa bertemu denganmu? Tidak takut berapapun jauhnya, hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu. Masa lalu seperti asap... hilang dan tak kan kembali. menambah kerinduan di hatiku... Bagaimanapun dicari, jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.." (lirik langsung di-translate dari bahasa Mandarin)
| |