''s posts with tag: couple

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryPerkawinan Tidak BahagiaAug 27, '07 12:30 AM
for everyone

Dua orang yang baik, tapi mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi. Dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibandingkan sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung-jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadual sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedangkan ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidak-berdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan. Sedangkan aku juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri: Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia, dan suamiku sendiri sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih,
masakan yang tidak enak. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya kami berdua tetap saja tidak bahagia...
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata:
"Istriku, temani aku sejenak mendengarkan alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata: "Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dipel?"

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidak-bahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. "Apa yang kamu inginkan?"

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya... Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya. Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan.
Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku, cara saya juga sama seperti ibu.

Perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?" Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengarkan musik, dan dari kejauhan saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku: "Apa yang kau butuhkan?"

"Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengarkan musik. Rumah kotor sedikit tidak apa-apalah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku!" ujar suamiku.
"Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu.... dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. "
"Semua itu tidak penting!", ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana saling mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.
 
Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya waktu senggang menemani pihak kedua mendengarkan musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.
Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya: 'Dengarkan aku, jangan memberi komentar'. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya. Kalau tidak saya hanya boleh mendengarkan dengan serius, menurut sampai tuntas. Demikian juga ketika salah jalan.
Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan. Dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan ke luar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami. Setiap ada pertikaian, kami selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan. Kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua: "Apa yang kau inginkan", kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan.
Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia. Mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.
Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun pihak kedua tidak dapat merasakannya. Akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri. Perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.~
 
Erabaru (Sumber Secret China)

 


Boy adalah seorang cowo yg menjadi
buta
karena
sebuah kecelakaan..
Sejak ia menjadi buta..ia merasa
terasing dari
lingkungannya..
Ia merasa tidak ada seorang pun yg
memperhatikan atau menyayanginya..

Hingga kemudian hadirlah Girl dalam
hidupnya..
Girl sangat sayang dan perhatian pada
Boy..
Ia tidak pernah mempermasalahkan
kebutaan
Boy
sebagai suatu kekurangan yg berarti..
Ia sungguh-sungguh mencintai Boy
dengan
tulus...

Suatu hari berkatalah Boy kepada Girl..

B : Girl...mengapa kamu begitu
menyayangiku.
.?

G: hmmm..entahlah..aku tidak pernah tau
alasan
mengapa aku begitu menyayangimu..yg
aku
tahu..aku benar-benar tulus
menyayangimu
Boy..
(tersenyum)

B : tapi..aku kan buta..apa yg bisa aku
perbuat
untukmu..? apa yg bisa aku berikan
buatmu..?

G : Boy..aku tidak mengharap apapun
darimu..buatku..kamu bisa ceria setiap
hari dan
menyayangiku dengan tulus itu sudah
cukup..
aku
senang ketika kau merasa senang..

B : (terharu) belum pernah ada orang yg
begitu
menyayangi aku yg buta seperti ini..

G : (menggenggam tangan Boy sambil
tersenyum)

B : Girl..kalo sampai suatu saat nanti aku
bisa
melihat lagi..aku pasti akan menikahimu..
karena
hanya kamu satu-satunya orang yg
dengan
tulus
menyayangiku...

G : benarkah..?

B : iya..aku janji..kalau suatu saat nanti
aku
bisa
melihat, PASTI aku akan menikahimu..

G : (terharu) terima kasih Boy..aku sangat
menyayangimu...

B : (tersenyum) ya..aku tahu itu..aku juga
sangat
menyayangimu Girl..

singkat cerita..
Boy melakukan operasi cangkok mata dan
berhasil..ia mampu melihat lagi..
Ia pun tidak sabar untuk segera menemui
Girl..

Pergilah ia mencari Girl..
sampai ia berhasil menemukannya...
Namun...
alangkah terkejutnya ia mengetahui
bahwa
ternyata Girl adalah seorang gadis buta..
Ia tidak bisa menerimanya..Ia pun
menolak Girl
..
Ia lupa akan semua janjinya...

G : Boy..bukankah kamu sudah berjanji
akan
menikah denganku..?

B : ummm....(bimbang) ya memang aku
pernah
berkata begitu..tapi tidak dengan
keadaanmu
yg
seperti ini..

G : Bagaimana mungkin kamu
mengingkari
janjimu sendiri..? bukankah kau bilang
hanya
aku
satu-satunya orang yg menyayangimu..?

B : eeeerr...maaf Girl..tapi aku tidak bisa
menikah
dengan gadis buta..maaf..

Boy pun pergi meninggalkan Girl..

Girl yang kecewa dan merasa dikhianati..
memilih
untuk bunuh diri..

Saat ia ditemukan meninggal..ada
sepucuk
surat
disakunya..

"Dear Boy...
Memang tidak banyak yg bisa aku berikan
padamu..tidak banyak yg bisa aku lakukan
untukmu...
Namun..aku sungguh-sungguh tulus
menyayangimu...
Semoga kedua mataku itu bisa berguna
bagimu..bisa membawakan terang dan
keceriaan
dalam hidupmu kembali.."

~Kadang kala kita tidak boleh melihat
sesuatu
hanya dengan mata..melainkan juga
dengan
hati
kita.. Mata itu bisa menipu..namun hati
tidak..
kata
hati selalu merupakan kejujuran terdalam
dalam
hidup manusia..~


Blog EntryPasangan Dari Tuhan,Aug 22, '07 5:09 AM
for everyone

Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, "Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya", Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan  yang kuinginkan.  Aku menginginkan pasangan yang  baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.

Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku,

" Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.

" Aku bertanya, "Mengapa Tuhan?" dan Ia menjawab,

" Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar."

" Aku bertanya lagi, "Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?"
" Jawab Tuhan, "Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak..."

Kemudian Ia berkata kepadaku, "Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang  sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."



Kisah Ini untuk: yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang akan menikah, dan yang sedang mencari.


Blog EntryTidak Selalu Harus Berwujud 'Bunga'Aug 21, '07 3:26 AM
for everyone

 > Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang
alami dan
> saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati
saya ketika saya
bersandar
> di bahunya yang bidang.
> Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun
dalam masa
pernikahan,
saya
> harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2
saya mencintainya
dulu
> telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya
seorang wanita
yang
> sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan
halus.
> Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang
anak yang
menginginkan
> permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh
berbeda
> dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.
Dan
ketidakmampuannya
> dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
pernikahan kami telah
> mementahkan semua harapan saya akan cinta yang
ideal.
>
> Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya
kepadanya,
> bahwa saya menginginkan perceraian.
> "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
> "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
yang saya
inginkan"
> Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan
komputernya,
tampak
> seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal
tidak.
> Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang
bahkan tidak
dapat
> mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya
harapkan
darinya?
> Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya
lakukan untuk
merubah
> pikiranmu?".
> Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan
pelan, "Saya
punya
> pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di
dalam hati saya,
saya
> akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya
menyukai setangkai bunga
indah
> yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika
kamu memanjat
gunung
> itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya
untuk saya?"
> Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan
memberikan jawabannya
> besok."
> Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
>
> Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya
menemukan selembar
kertas
> dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang
berisi susu
hangat
yang
> bertuliskan....
> "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu
untukmu, tetapi ijinkan
saya
> untuk menjelaskan alasannya."
> Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya
melanjutkan untuk
> membacanya. "Kamu bisa mengetik di komputer dan
selalu mengacaukan
program
> di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor,
saya harus
memberikan
> jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki
programnya."
> "Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan
saya
> harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak
pintu, dan
membukakan
pintu
> untukmu ketika pulang.".
> "Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar
di tempat-tempat
baru
> yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah
agar bisa
memberikan
mata
> saya untuk mengarahkanmu."
> "Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu'
datang setiap
bulannya, dan
> saya harus memberikan tangan saya untuk memijat
kakimu yang pegal."
> "Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi
'aneh'.
> Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu
di rumah atau
> meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu
yang aku alami."
> "Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan
itu tidak baik
untuk
> kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar
ketika kita tua
nanti,
> saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan
mencabuti
ubanmu."
> "Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai,
menikmati
> matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
warna-2 bunga yang
> bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
> "Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga
itu untuk mati.
Karena,
> saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir
menangisi kematianku."
> "Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih
dari
saya
> mencintaimu."
> "Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku,
mataku
> tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu
mencari tangan,
kaki,
> dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."
>
> Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi
kabur,
> tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
> "Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca
jawaban saya.
> Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap
menginginkanku
untuk
> tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah
kita, saya
sekarang
> sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."
> "Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk
untuk membereskan
> barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit
hidupmu. Percayalah,
> bahagiaku bila kau bahagia.".
>
> Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan
pintu
> dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang
susu dan roti
kesukaanku.
> Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih
dari
> dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa
cinta itu telah
> berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita
merasa dia tidak
dapat
> memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan,
maka cinta itu
> sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak
pernah kita
bayangkan
> sebelumnya.
>
> Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari
pasangan
> kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
> Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga". 

 

 


Blog Entry1000 Burung Kertas..Jul 23, '07 1:23 AM
for everyone

Sewaktu Boy dan Girl baru pacaran,
Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl,
menggantungkannya di dalam kamar Girl.
Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.
Waktu itu... Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya
cinta mereka berdua...

Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy.
Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...Ke Paris ...

Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu...
Sewaktu Girl mau memutuskan Boy, Girl bilang sama Boy, kita harus
melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek
adalah kehidupan kedua kalinya. Aku harus bisa memegang kesempatan ini
dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan
bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!

Setelah Girl pergi ke Perancis, Boy bekerja keras...
dia pernah menjual koran...
menjadi karyawan sementara... bisnis kecil...
setiap pekerjaan kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya, akhirnya dia mempunyai
sebuah perusahaan.
Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl, dia masih tidak
dapat melupakannya.

Pada suatu hari... waktu hujan, Boy dari mobilnya melihat sepasang orang
tua berjalan sangat pelan di depan.
Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl....
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil
pribadi,
tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu
kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang
Boss.

Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang
orang-tua tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai
payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.

Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Boy tercegang oleh apa yang ada didepan matanya,
itu adalah tempat pemakaman.
Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang dibuatkan Boy.
Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup, Orang-tua Girl
memberitahu Boy, Girl tidak pergi ke Paris, Girl terserang kanker, Girl
pergi ke surga. Girl ingin Boy menjadi orang, mempunyai keluarga yang
harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu. Girl
bilang dia sangat mengerti Boy, dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.
Girl mengatakan.. . kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya dan
berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Boy langsung berlutut, berlutut di depan makam Girl, menangis dengan
begitu sedihnya. Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,
membasahi sekujur tubuh Boy.
Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos, Mengingat
semua itu, hatinya mulai meneteskan darah...

Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Boy
sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.


"Hatiku tidak pernah menyesal,
semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,

beterbangan di dalam angin
menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...melewati sungai perak,
apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap...
hilang dan tak kan kembali.
menambah kerinduan di hatiku...
Bagaimanapun dicari,
jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.."

(lirik langsung di-translate dari bahasa Mandarin)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help