Mengatasi Alergi Obat
Wednesday, 22 July 2009
IBARATmakan buah simalakama,alergi obat memang sangat merepotkan.Jika
tidak diminum, penyakit tidak sembuh dan semakin merajalela, jika
diminum akan menimbulkan alergi.
Penelitian terhadap alergi obat sudah sering kali dilakukan. Beberapa
penelitian mengungkapkan reaksi yang tidak diinginkan pada penggunaan
obat terjadi sekitar dua persen dari sejumlah pasien yang mengonsumsi
obat. Reaksi alergi obat ini biasanya ringan.
Tapi ada juga yang sampai mengancam nyawa.Alergi obat memiliki banyak
perbedaan pada masing-masing orang. Misalnya pada penderita udem laring
(sembab), syok anfilaktik, serta sindrom Stecvvens- Johnson. Udem laring
atau penderita sesak napas,jika mengalami alergi obat akan merasakan
seperti orang tercekik.
Pada penderita syok anfilaktik terjadi penurunan tekanan darah dan pada
penderita sindrom Stevens-Johnson akan merasakan kulit dan selaput
lendir berubah bentuk. Kematian karena alergi, tidak hanya terjadi di
negara berkembang, juga di negara maju yang fasilitas kesehatannya
supermaju. Bahkan, di negara-negara Eropa masih terjadi kematian karena
alergi obat.
Oleh karena itu, di Eropa dibentuk jaringan pemantau alergi obat yang
merekam semua kejadian dan memberikan informasi alergi obat yang sering
terjadi. ”Alergi obat biasanya terjadi karena tubuh seseorang sangat
sensitif sehingga bereaksi secara berlebihan terhadap obat yang digunakan.
Tubuh berusaha menolak obat tersebut,namun reaksi penolakannya amat
berlebihan sehingga merugikan tubuh sendiri.Reaksi itu bisa berupa
gatal, sesak napas, penurunan tekanan darah, reaksi kulit disertai
kelainan pada selaput lendir saluran cerna, sindrom Stevens-Johnson pada
saluran napas dan kemaluan,”kata dokter spesialis kulit
Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo (RSCM),Dr Abdillah Achmad.
Abdillah menyebutkan, risiko alergi obat meningkat pada orang yang
memiliki bakat alergi atau dalam istilah kedokteran disebut dengan
atopi. Untuk menghindari terjadinya alergi obat, perlu kerja sama antara
pasien dan dokter.Pasien harus mengemukakan pengalamannya menggunakan
obat selama ini, apakah obat tertentu membuat tubuh alergi atau
dicurigai menimbulkan alergi.
”Akan sangat bagus jika setiap orang memiliki catatan tertulis mengenai
penggunaan obat dan apa yang dialami tubuhnya. Itu akan sangat
memudahkan pemberian obat jika suatu saat dibutuhkan,”katanya. Obat yang
dicurigai menyebabkan alergi harus dihindari dan jika diperlukan,dipilih
obat yang lebih aman. Meski dapat juga terjadi walaupun tidak sering,
seorang yang semula tidak alergi terhadap suatu obat kemudian hari bisa
pula menjadi alergi obat.
”Hindari mengonsumsi obat jika tidak perlu. Vitamin diduga aman,
sekalipun dapat menimbulkan alergi, bukan karena zat aktif vitaminnya,
tapi karena zat tambahan dalam pembuatan obat seperti zat pewarna yang
ada di dalamnya,” sebut dokter berkacamata minus tersebut.
Pasien yang mengalami reaksi yang tidak diinginkan karena penggunaan
obat, harus segera ke dokter untuk mendapatkan pertolongan. Untuk
menghentikan alergi obat, hanya ada satu cara yaitu dengan menghentikan
pemakaian obat itu, dan mengatasi keadaan yang timbul akibat alergi.
Saat ini obat yang beredar di masyarakat jumlahnya jutaan.Tiap tahun
ratusan obat baru diperkenalkan kepada masyarakat. Sebelum obat
diizinkan beredar, harus melalui pengujian ketat Badan Pengawasan Obat
dan Makanan (BPOM).Tentu obat yang diberikan izin beredar yang
bermanfaat dan aman.
Namun, tidak ada obat yang bermanfaat dan seratus persen aman. Lebih
lanjut ditambahkan Dr Abdillah Achmad, reaksi alergi terhadap obat
muncul tanpa diduga. Seseorang yang tadinya tidak apa-apa minum obat
tertentu, suatu ketika bisa saja merasa gatal sekujur tubuhnya setelah
minum obat tersebut.”Jangka waktu munculnya alergi bisa cepat,bisa
sangat lambat, semuanya tergantung reaksi tubuh,”tutur dia. Demikian
pula berat ringannya reaksi alergi.
Seseorang mungkin langsung syok tak sadarkan diri sesaat setelah minum
obat yang membuatnya alergi. Sementara yang lain hanya gatal, beberapa
saat kemudian hilang gatalnya. Bagi kalangan awam, reaksi alergi
dianggap keracunan.
Ini berbeda. Reaksi alergi adalah reaksi berlebihan tubuh terhadap bahan
tertentu (dalam hal ini obat), sedangkan keracunan (intoksikasi) adalah
reaksi yang muncul karena pemakaian obat yang berlebihan hingga melebihi
batas toksis berdasarkan batasan farmakologi. Di era modern seperti
sekarang, rekam medik sangat mudah. Bisa menggunakan peranti apapun,
pengolah kata, spreadsheet, database atau peranti lain seperti PIM
(Personal Information Manager, dengan sedikit modifikasi) atau peranti
khusus seperti Medibank. Bila dokter tidak memberikan catatan riwayat
alergi obat, penderita berhak memintanya.
Sementara sejumlah pihak berpendapat bahwa kasus alergi disamakan dengan
malapraktik, terlebih jika mengakibatkan efek berat semisal Steven
Johnson Syndrome atau akibat fatal misalnya kematian. Terlepas dari
kendala menyangkut alergi obat, sudah selayaknya para dokter melengkapi
dirinya (praktik pribadi ataupun bekerja di institusi layanan medis)
dengan peranti rekam medik.
Setidaknya menggunakan lembar status penderita agar alergi obat bisa
dihindari. Salah seorang penderita alergi obat, Dewi Andika Pratama,
mengaku sangat kaget ketika dirinya mengalami alergi karena obat.
Padahal sebelumnya Dewi mengaku tidak ada masalah dengan obat apa pun
yang dikonsumsinya.
”Saya alergi obat, baru-baru ini saja. Biasanya kulit saya langsung
gatal dan bengkak-bengkak jika mengonsumsi obat penghilang nyeri. Itu
membuat saya datang ke dokter dan berkonsultasi,” kata Dewi ditemui di
RSCM beberapa waktu lalu.(bernadette lilia nova)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/256685/Mencegah Alergi
Wednesday, 22 July 2009
ALERGI bisa muncul kapan saja. Selain obat, makanan dan banyak hal lain
bisa menyebabkan alergi. Misalnya debu. Berikut beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi: 1. Jagalah kebersihan
lingkungan.
Menjaga lingkungan baik di dalam maupun di luar rumah sangat penting.
Hal ini termasuk tidak menumpuk banyak barang di dalam rumah ataupun
kamar tidur yang dapat menjadi sarang bertumpuknya debu sebagai
rangsangan timbulnya reaksi alergi.
2. Perhatikan kebersihan diri. Untuk mandi,usahakan mandi sore sebelum
pukul 17.00 dengan air hangat. Sabun dan sampo yang digunakan sebaiknya
adalah sabun dan sampo untuk bayi.Dilarang menggunakan cat rambut karena
berpotensi lebih besar untuk mendatangkan alergi.
3. Hindari pewangi ruangan ataupun parfum,obat-obat antinyamuk. Jika di
rumah Anda terdapat banyak nyamuk, gunakanlah raket antinyamuk.Obat
antinyamuk biasanya sangat berdampak negatif bagi penderita alergi.
4. Gunakan kasur atau bantal dari bahan busa,bukan kapuk.
5. Gunakan seprai dari bahan katun dan cucilah minimal seminggu sekali
dengan air hangat agar lebih bersih. 6. Hindari menggunakan pakaian dari
bahan wol,gunakanlah pakaian dari bahan katun.
7. Pendingin udara (AC) dapat digunakan, tetapi tidak boleh terlalu
dingin dan tidak boleh lebih dari PK.24.00.
8. Awasi setiap makanan atau minuman maupun obat-obatan yang menimbulkan
reaksi alergi. Hindarilah bahan makanan, minuman,maupun obat-obatan
tersebut.
9. Konsultasi. Konsultasikan dengan spesialis. Alergi yang muncul
membutuhkan perawatan yang berbeda- beda pada masing-masing penderita
alergi. (bernadette
Mengatasi Alergi Obat
IBARATmakan buah simalakama,alergi obat memang sangat merepotkan.Jika
tidak diminum, penyakit tidak sembuh dan semakin merajalela, jika
diminum akan menimbulkan alergi.
Penelitian terhadap alergi obat sudah sering kali dilakukan. Beberapa
penelitian mengungkapkan reaksi yang tidak diinginkan pada penggunaan
obat terjadi sekitar dua persen dari sejumlah pasien yang mengonsumsi
obat. Reaksi alergi obat ini biasanya ringan.
Tapi ada juga yang sampai mengancam nyawa.Alergi obat memiliki banyak
perbedaan pada masing-masing orang. Misalnya pada penderita udem laring
(sembab), syok anfilaktik, serta sindrom Stecvvens- Johnson. Udem laring
atau penderita sesak napas,jika mengalami alergi obat akan merasakan
seperti orang tercekik.
Pada penderita syok anfilaktik terjadi penurunan tekanan darah dan pada
penderita sindrom Stevens-Johnson akan merasakan kulit dan selaput
lendir berubah bentuk. Kematian karena alergi, tidak hanya terjadi di
negara berkembang, juga di negara maju yang fasilitas kesehatannya
supermaju. Bahkan, di negara-negara Eropa masih terjadi kematian karena
alergi obat.
Oleh karena itu, di Eropa dibentuk jaringan pemantau alergi obat yang
merekam semua kejadian dan memberikan informasi alergi obat yang sering
terjadi. ”Alergi obat biasanya terjadi karena tubuh seseorang sangat
sensitif sehingga bereaksi secara berlebihan terhadap obat yang digunakan.
Tubuh berusaha menolak obat tersebut,namun reaksi penolakannya amat
berlebihan sehingga merugikan tubuh sendiri.Reaksi itu bisa berupa
gatal, sesak napas, penurunan tekanan darah, reaksi kulit disertai
kelainan pada selaput lendir saluran cerna, sindrom Stevens-Johnson pada
saluran napas dan kemaluan,”kata dokter spesialis kulit Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo (RSCM),Dr Abdillah Achmad.
Abdillah menyebutkan, risiko alergi obat meningkat pada orang yang
memiliki bakat alergi atau dalam istilah kedokteran disebut dengan
atopi. Untuk menghindari terjadinya alergi obat, perlu kerja sama antara
pasien dan dokter.Pasien harus mengemukakan pengalamannya menggunakan
obat selama ini, apakah obat tertentu membuat tubuh alergi atau
dicurigai menimbulkan alergi.
”Akan sangat bagus jika setiap orang memiliki catatan tertulis mengenai
penggunaan obat dan apa yang dialami tubuhnya. Itu akan sangat
memudahkan pemberian obat jika suatu saat dibutuhkan,”katanya. Obat yang
dicurigai menyebabkan alergi harus dihindari dan jika diperlukan,dipilih
obat yang lebih aman. Meski dapat juga terjadi walaupun tidak sering,
seorang yang semula tidak alergi terhadap suatu obat kemudian hari bisa
pula menjadi alergi obat.
”Hindari mengonsumsi obat jika tidak perlu. Vitamin diduga aman,
sekalipun dapat menimbulkan alergi, bukan karena zat aktif vitaminnya,
tapi karena zat tambahan dalam pembuatan obat seperti zat pewarna yang
ada di dalamnya,” sebut dokter berkacamata minus tersebut.
Pasien yang mengalami reaksi yang tidak diinginkan karena penggunaan
obat, harus segera ke dokter untuk mendapatkan pertolongan. Untuk
menghentikan alergi obat, hanya ada satu cara yaitu dengan menghentikan
pemakaian obat itu, dan mengatasi keadaan yang timbul akibat alergi.
Saat ini obat yang beredar di masyarakat jumlahnya jutaan.Tiap tahun
ratusan obat baru diperkenalkan kepada masyarakat. Sebelum obat
diizinkan beredar, harus melalui pengujian ketat Badan Pengawasan Obat
dan Makanan (BPOM).Tentu obat yang diberikan izin beredar yang
bermanfaat dan aman.
Namun, tidak ada obat yang bermanfaat dan seratus persen aman. Lebih
lanjut ditambahkan Dr Abdillah Achmad, reaksi alergi terhadap obat
muncul tanpa diduga. Seseorang yang tadinya tidak apa-apa minum obat
tertentu, suatu ketika bisa saja merasa gatal sekujur tubuhnya setelah
minum obat tersebut.”Jangka waktu munculnya alergi bisa cepat,bisa
sangat lambat, semuanya tergantung reaksi tubuh,”tutur dia. Demikian
pula berat ringannya reaksi alergi.
Seseorang mungkin langsung syok tak sadarkan diri sesaat setelah minum
obat yang membuatnya alergi. Sementara yang lain hanya gatal, beberapa
saat kemudian hilang gatalnya. Bagi kalangan awam, reaksi alergi
dianggap keracunan.
Ini berbeda. Reaksi alergi adalah reaksi berlebihan tubuh terhadap bahan
tertentu (dalam hal ini obat), sedangkan keracunan (intoksikasi) adalah
reaksi yang muncul karena pemakaian obat yang berlebihan hingga melebihi
batas toksis berdasarkan batasan farmakologi. Di era modern seperti
sekarang, rekam medik sangat mudah. Bisa menggunakan peranti apapun,
pengolah kata, spreadsheet, database atau peranti lain seperti PIM
(Personal Information Manager, dengan sedikit modifikasi) atau peranti
khusus seperti Medibank. Bila dokter tidak memberikan catatan riwayat
alergi obat, penderita berhak memintanya.
Sementara sejumlah pihak berpendapat bahwa kasus alergi disamakan dengan
malapraktik, terlebih jika mengakibatkan efek berat semisal Steven
Johnson Syndrome atau akibat fatal misalnya kematian. Terlepas dari
kendala menyangkut alergi obat, sudah selayaknya para dokter melengkapi
dirinya (praktik pribadi ataupun bekerja di institusi layanan medis)
dengan peranti rekam medik.
Setidaknya menggunakan lembar status penderita agar alergi obat bisa
dihindari. Salah seorang penderita alergi obat, Dewi Andika Pratama,
mengaku sangat kaget ketika dirinya mengalami alergi karena obat.
Padahal sebelumnya Dewi mengaku tidak ada masalah dengan obat apa pun
yang dikonsumsinya.
”Saya alergi obat, baru-baru ini saja. Biasanya kulit saya langsung
gatal dan bengkak-bengkak jika mengonsumsi obat penghilang nyeri. Itu
membuat saya datang ke dokter dan berkonsultasi,” kata Dewi ditemui di
RSCM beberapa waktu lalu.(bernadette lilia nova)